Tuesday, April 15, 2014

inteligensi kecerdasan


I.                            PENDAHULUAN
Inteligensi  (kecerdasan)
1.      Pengertian inteligensi
Perkataan inteligensi berasal dari  kata “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to orgarize, to relate, to bind, together) pengertian inteligensi memberikan bermacam-macam arti bagi para ahli yaitu sebagai berikut:
1.1. Super & cites mengemukakan sesuai definisi yang sering dipakai oleh sementara orang sebagai berikut ( kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman ( 1962 : 82 ).
1.2.Bischof seorang fisikolog amerika ( 1954 )
Itelingensi ialah kemampuan untuk memecahkan segala jenis masalah
1.3.Heidentich ( 1970 )
Iteligensi meyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuain terhadap situasi – situasi yang kurang dikenal, atau dalam pemecahan masalah – masalah.

2.      Teori – teori tentang inteligensi
Untuk lebih memperjelas pengertian inteligenci berikut ini dikemukakan beberapa teori tentang itelingensi.
2.1.Teori “ uni-factor”
Pada  tahun 1911, wilhelm stern memperkenalkan suatu teori tentang iteligensi yang di sebut “uni-factor theory”. Teori ini dikenal pula sebagai teori kapasitas umum. Menurut teori ini inteligensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum. Karena itu, cara kerja inteligenci juga bersifat umum. Reaksi atau seseorang dalam menyesuikan diri terhadp lingkungan atau memecahkan sesuatu masalah adalah bersifat umum pula. Kapasitas umum ( general capacity ) yang di timbulkan itu lazim dikemukakan dengan kode “G”.
2.2.Teori “two-factors”
Pada tahun 1904 yaitu stern, seorang ahli matematika bernama Charles spearman, mengajukan sebuah teori tentang inteligensi. Teori spearman itu terkenal dengan sebutan “two kinds of factors theory.” Spearman mengembangkan teori inteligensi berdasarkan suatu factor mental umum yang diberi kode “g” serta factor-faktor spesifik yang diberi “s”. factor “g” mewakili kekuatan mental umum yang berfungsi dalam setiap tingkah laku mental individu, sedangkan factor-faktor “s” menentukan tindakan-tindakan mental untuk mengatasi permasalahan. 
2.3.Teori “multi-factors”
Teori inteligensi multi factor dikembangkan oleh E.L Thorndike. Teori ini tidak berhubungan dengan konsep general ability atau factor “g” . Menurut teori ini, inteligensi terdiri dari bentuk hubungan-hubungan neural antara stimulus  dan respon. Hubungan-hubungan neural khusus inilah yang mengarahkan tingkah lakuindividu. Ketika seseorang dapat menyebutkan sebuah kata, menghafal sajak, menjumlah bilangan, atau melakukan pekerjaan itu  berarti bahwa ia dapat melakukan itu karna terbentuknya koneksi-koneksi di dalam sistem saraf akibat belajar atau latihan. Manusia didiperkirakan memiliki 13 miliar urat saraf sehingga memungkinkan adanya hubungan neural yang banyak sekali. Jadi, inteligensi menurut teori ini adalah jumlah koneksi actual dan potensial di dalam sistem saraf
2.4.Teori “Primary-Mental-Abilities”
l.l thurstone telah berusaha menjelaska tentang organisasi inteligensi yang abstrak, ia dengan menggunakan tes – tes mental serta teknik – teknik stastistik khusus membagi itelingensi menjadi 7 kemampuan primer, yaitu :
3.4.1. kemampuan numerical/matematis.
3.4.2. kemampuan verbal, atau berbahasa .
3.4.3. kemampuan abstraksi berupa visualisasi atau berpikir .
3.4.4. kemampuan membuat keputusan baik induktif maupun deduktif.
3.4.5. kemampuan mengenal atau mengamati.
3.4.6. kemampuan mengingat
            3.5.  Teori “sampling “ 
     Untuk menjelaskan tentang inteligensi, Godfrey H.Thomson pada tahun 1916 mengajukan sebuah teorinya yang disebut teori sampling. Teori ini kemudian disempurnakan lagi pada tahun 1935dan 1948. Menurut teori ini, inteligensi merupakan berbagai kemampuan sampel dunia berisikan berbagai bidang pengalaman. Berbagai bidang pengalaman itu terkuasai oleh pikiran manusia tetapi tidak semuanya. Masing-masing bidang hanya terkuasai sebagian-sebagian saja dan ini mencerminkan kemampuan mental manusia . sebagai gambaran, misalnya saja dunia nyata terdapat kemampuan atau bidang-bidang pengalaman A,B,C, Inteligesi bergerak dengan sampel, misalnya sebagian A dan sebagian B atau dapat pula sebagian dari bidang-bidang A,B, dan C.
3.      Factor-faktor yang mempengaruhi inteligensi seseorang
              Factor-faktor yang dapat mempengaruhi inteligensi sehingga terdapat perbedaan inteligensi seseorang dengan yang lain ialah:
3.1.Pembawaan: pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan kita yakni dapat tidaknya memecahkan suatu soal, pertama-tama ditentukan oleh pembawaan kita. Orang itu ada yang pintar dan ada yang bodoh.  Meskipun menerima latihan dan pelajaran yang sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada.
3.2.Kematangan: tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masig-masing. Anak-anak tidak dapat memecahkan soal-soal tertentu, karena soal-soal itu masih terlampau sukar baginya.
3.3.Pembentukan: pembentukan ialah segala keadaan diluar diri mempengaruhi perkembangan sengaja ( seprti yang dilakukan disekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar )
3.4.Minat dan pembawaan yang khas : minat mengarahkan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Motif menggunakan dan menyelidiki dunia luar (manipulate and exploring motivasi). Dari manipulasi dan eksplorisasi yang dilakukan terhadap dunia luar itu, lama kelamaan timbulah minat terhadap sesuatu. Apa yang mereka minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik
3.5.Kebebasan: kebebasan berarti  bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa  minat itu selamanya tidak menjadi syarat dalam perbuatan inteligensi.

Orang-orang yang berjasa menemukan tes inteligensi pertama kali ialah seorang dokter bangsa perancis: Alfaret Binet dan pembantunya simon. Sehingga tes nya dikenal dengan nama Tes Binet- Simon. Seri tes dari binet simon ini, pertama diumumkan antara 1908-1911 yang diberi nama Chelle matrique de L’intelligence atau skala pengukuran kecerdasan. Tes binet simon terdiri dari sekumpulan pertanyaan-pertanyaan yang telah dikelompokkan menurut umur (untuk anak-anak umur 3-15 tahun ). Pertanyaan-pertanyaan itu sengaja bibuat mengenai segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran di sekolah .
 Seperti:
- mengulang kalimat kalimat yang pendek atau panjang
- mengulang deretan angka-angka
-memperbandingkan berat timbangan
- menceritakan isi gambar-gambar
- menyebut nama bermacam-macam warna
- menyebut harga mata uang

4.      Peranan pendidikan dalam meningkatkan inteligensi

Penelitian para psikolog lowa Dr. NancyBayley dari universitas California mengemukakan pendapat, bahwa IQ anak yang masih terlalu muda mengalami perubahan “turun-naik” (tidak tetap).  Ia berpendapat, bahwa kapasitas mental anak masih terlalu muda tidak berkembang dengan kecepatan yang sama dengan perkem    bangan kecepatan mental anak-anak sebaya lainya, meskipun mereka mempunyai kekuatan-kekuatan intelektual yang sama. Ini dapat berarti, bahwa dalam tahap perkembangan tertentu seorang anak dapat memiliki IQ di bawah rata-rata,sedangkan dalam tahap yang lain ia memiliki IQ di atas rata-rata.

Peneliti-peneliti lain sperti yang dilakukan oleh Prof. Irving Lorge (1945) dari universitas Colombia menunjukkan, bahwa IQ seseorang berubungan dengan tingkat pendidikannya. Semakin tinggi tingkat  pendidikan seorang semakin tinggi pula IQ-nya.


5.      Inteligesi pria dan wanita
Banyak orong yang sudah meyakini, bahwa antara pria dan wanita tidak terdapat perbedaan dalam inteligesi. Banyak pula penelitian yang membuktikan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara inteligensi pria dan wanita. Dari tes-tes yang pernah diberikan, wanita terutama berkelebihan dalam hal mengerjakan tes-tes yang meyangkut penggunaan bahasa, hafalan-hafalan, reaksi-reaksi estetika serta masalah-masalah social. Di lain pihak, laki-laki berkelebihan dalam penalaran abstrak, penguasaan matematika, mekanika atau structural skills.
 Secara herediter kita hanya dapat menduga, barang kali perbedaan minat dan kelakuan antara laki-laki dan perempuan disebabkan karena perbedaan sifat “genes” atau kromosom.

6.      Ilmu pengetahuan belum dapat menjelaskan tentang pewarisan inteligensi

Pewarisan inteligesi secara tegas belum dapat dijelaskan oleh karena :
6.1.Dengan adanya berbagai definisi dan teori tentang inteligesi, maka hingga pada saat ini kita belum memperoleh pengertian yang standar/baku tentang inteligensi itu.
6.2.Hingga pada saat ini, kita belum memiliki alat ukur yang cermat untuk mengetahui IQ seseorang. Tes untuk mengukur inteligensi akademik dan tes untuk mengukur inteligensi praktis harusnya menggunakan alat ukur yang berbeda, tetapi hingga pada saat ini tes atau alat ukur yang digunakan untuk kedua macam inteligensi itu sama. Masih diragukan, bahwa tinggi atau rendahnya IQ belum menentukan kapasitas mental seseorang.

E.L Thurndike berpendapat bahwa kemampuan mental yang berbeda pada masing-masing individu adalah tidak disebabkan oleh perbedaan bagian –bagian otak, melainkan oleh perbedaan operasi(hook ups) antara sel-sel saraf otak,alat-alat indera, serta bagian-bagian lain dari sistem saraf.

7.      Beberapa masalah yang berhubungan dengan inteligensi

7.1.Apakah kondisi tubuh yang jelek menghasilkan mental yang jelek pula
Berdasarkan penelitian, ternyata orang-orang yang ber-IQ tinggi cenderung lebih sehat jasmaninya, dan pertumbuhannya pun lebih subur bila dibandingkan dengan orang-orang yang IQ-nya lebih rendah. Dalam hal ini masih timbul pertanyaan , apakah kesehatan jasmani tidak ditimbulkan oleh factor-faktor lain? Pada kenyataannya, anak-anak yang mempunyai kondisi jasmani yang baik pada umumnya berasal dari keluarga-keluarga yang mampu memberikan kondisi kehidupan yang sehat, dan di samping itu memiliki kemajuan-kemajuan serta keuntungan-keuntungan pedagogis dan kultural.penelitian-penelitian di jerman selama perang dunia 1 dan perang dunia 11 telah menunjukkan. Bahwa inteligesi manusia tidak banyak dipengaruhi oleh kurangnya unsur-unsur makanan pada tubuh anak.
7.2.Apakah penyakit yang diderita seseorang menghambat perkembangan mentalnya?
Penyakit sifilis misalnya, belum menunjukan pengaruh bagi inteligensinya. Penyakiy ini tidak memperendah IQ seseorang, kecualai jika sifilis itu diderita oleh seseorang yang menglami tekanan-tekanan lingkungan atau ia berasal dari keluarga yang memang ber-IQ rendah.
Penyakit-penyakit tertentu menyerang otak atau sistem saraf dapat mengurangi IQ, tetapi tidak selalu demikian. Beberapa penyakit yang menyerang otak atau system saraf misalnya: spinal meningitis, memerahnya artiris, penyakit otak yang disebut epidemic encephalitis, dan berbagai penyakit epilepsy. Kelukaan otak pada prenatal atau pada masa bayi dapat mengakibatkan gangguan inteligesi, tetapi apabila setelah dewasa luka itu sembuh, orangpun dapat memiliki inteligensi seperti yang lazim dimiliki oleh orang normal.
7.3.Apakah perbedaan ras dan kebangsaan menentukan perbedaan inteligesi? 
Berdasarkan tes-tes inteligensi yang pernah diadakan, dulu orang-orang negro di anggap lebih bodoh dari pada orang-orang kulit putih. hal-hal ini memang boleh terjadi ketika perbedaan warna kulit masih dipersoalkan secara tajam. Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu setelah orang-orang negro memperoleh banyak kesempatan luas dibidang pendidikan, ternyata 25% dari mereka mempunyai IQ yang lebih tinggi dari rata-rata IQ orang-orang kulit putih. bahkan sekarang banyak anak-anak negro yang tercatat memiliki IQ yang tinggi mencapai 140-150. Mereka ini dalam dunia pendidikan tergolong sebagai anak-anak yang glifted. Para ahli jiwa telah mengemukakan, bahwa perbedaan antara orang-orang kulit putih sulit dihubungkan dengan masalah hereditas. Untuk membandingkan inteligensi antara orang-orang dari berbagai rasa atau kebangsaan yang berbeda, orang harus masih mempertimbangkan latar belakang ekonomi serta status cultural pada masing-masing keluarga.

8.   Penutup
Inteligensi adalah suatu istilah yang popular. Hampir semua orang sudah mengenal istilah tersebut, bahkan mengemukakannya. Seringkali kita dengar seorang mengatakan si A tergolong pandai atau cerdas ( inteligen ) dan si B tergolong bodoh atau kurang cerdas ( tidak inteligen ). Istilah inteligen sudah lama ada dan berkembang dalam masyarakat sejak zaman Cicero yaitu kira-kira dua ribu tahun yang lalu dan merupakan salah satu aspek alamiyah dari seseorang. Inteligensi bukan merupakan kata asli yang berasal dari bahasa Indonesia. Kata inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latin yaitu inteligensia “. Sedangkan kata “ inteligensia “ itu sendiri berasal dari kata inter dan lego, inter yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga inteligensi pada mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu penalaran terhadap fakta atau kebenaran.

9.      Daftar pustaka
Drs.M.dalyono psikologi pendidikan, inteligensi, 2005

Wednesday, April 9, 2014

Layanan Informasi Bimbingan Konseling II

Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak. Setelah membahas mengenai Motivasi Belajar Anak Remaja dan kaitannya dengan Prestasi Belajar Anak, maka pada kesempatan ini saya juga akan menyampaikan beberapa tips atau cara untuk meningkatkan motivasi belajar anak. Karena begitu pentingnya motivasi belajar dalam proses perbaikan prestasi belajar, saya kira maka tips ini mungkin akan sangat bermanfaat.
Ada beberapa Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak dalam kegiatan belajar di sekolah, misalnya saja seperti yang diungkapkan A.M. Sardiman (2005:92-94), yaitu :

Monday, April 7, 2014

tahap-tahap perkembangan


1.      PERIODE PERKEMBANGAN
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai pada setiap periode tahap tahap perkembangan manusia dalam buku Life-Span Development oleh John Santrock:
Periode prakelahiran (prenatal period) ialah saat dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku, yang dihasilkan kira kira dalam periode 9 bulan.
1.1.Masa bayi (infacy) ialah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.
1.2.Masa awal anak anak (early chidhood) yaitu periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk bermain dengan teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak anak.
1.3.Masa pertengahan dan akhir anak anak (middle and late childhood) ialah periode perkembangan yang merentang dari usia kira kira enam hingga sebelas tahun, yang kira kira setara dengan tahun tahun sekolah dasar, periode ini biasanya disebut dengan tahun tahun sekolah dasar. Keterampilan keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.
1.4.Masa remaja (adolescence) ialah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
1.5.Masa awal dewasa (early adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tugapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.
1.6.Masa pertengahan dewasa (middle adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia kira kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir.
1.7.Masa akhir dewasa (late adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru.

2.      KONSEP UMUR

2.1.Umur kronologis (chronological age) 
Usia kronologis adalah perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia. Usia kronologis ditentukan dengan jumlah waktu yang telah berlalu sejak seseorang lahir atau usia yang sesuai dengan tanggal kelahiran manusia ke bumi. Usia kronologis biasanya diukur dalam tahun saja, tetapi usia kronologis bisa menjadi lebih spesifik, termasuk tahun, bulan, minggu dan hari.

2.2.Usia biologis (biological age)
Usia biologis adalah perhitungan usia berdasarkan kematangan biologis yang dimiliki oleh seseorang. Usia biologis mengacu pada keadaan kesehatan tubuh seseorang. Usia biologis tidak selalu sama dengan usia kronologis (tanggal lahir) bisa lebih muda atau lebih tua tergantung dari kondisi organ tubuh seseorang. Usia biologis ditentukan dengan membandingkan kesehatan fisik seseorang dari berbagai usia dan menentukan apa usia biologis orang tersebut. Penuaan biologis tidak terikat waktu, hal ini lebih berkaitan dengan seberapa baik sel memperbaharui diri dan seberapa efisien mereka menggunakan oksigen. Jika kondisi organ tubuhnya sehat walaupun sudah tua itu berarti usia biologisnya muda. Sebaliknya jika organ tubuhnya sakit padahal usianya masih muda itu artinya usia biologisnya lebih tua dari usia sebenarnya. Tidak seperti usia kronologis, usia biologis dapat diubah menjadi lebih baik (lebih muda) atau lebih buruk (lebih tua). Anda bisa muda dan memiliki usia biologis yang tinggi, atau di 50-an tahun tetapi memiliki usia biologis 20-an tahun. Usia biologis pada dasarnya adalah ukuran vitalitas batin dan energi. Semakin tinggi tingkat vitalitas seseorang maka semakin rendah usia biologisnya. Hidup sehat dan mampu mengendalikan stres dapat membuat usia biologisnya seseorang selalu muda meski usia kronologisnya sudah tidak muda lagi.

2.3.Usia psikologis (psychological age)
Usia psikologis adalah perhitungan usia yang didapatkan dari taraf kemampuan mental seseorang. Usia psikologis seseorang berkisar pada keterampilan psikologis atau kejiwaan dan mekanisme individu ketika dalam menangani stres atau masalah. Usia psikologis juga tidak selalu sama dengan usia kronologis ataupun usia biologis. Orang yang gampang marah dan selalu meledak-ledak, emosional, gampang tersinggung diartikan sebagai usia psikologis yang muda. Usia psikologis muda identik dengan umur anak-anak yang tidak mampu menguasai emosinya. Jadi walaupun usia Anda sudah 30 an tahun tapi karena kelakukan Anda yang gampang marah, tersinggung, egois bisa diartikan usia psikologia Anda lebih muda dari umur sebenarnya. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan emosinya dan lebih sabar menghadapi masalah dinilai memiliki umur psikologis yang lebih tua. Misalkan anak usia 15 tahun tapi mampu bersikap dewasa maka umur psikologisnya lebih tua dari umur sebenarnya.

2.4.Umur sosial (social age)
Umur sosial adalah perhitungan usia yang di dapatkan dari seberapa besarnya hubungan sosial dengan lingkunganya itu menimbulkan sifat kedewasanya tumbuh sebelum pada waktunya, jadi umur sosial adalah usia seseorang yang di pengaruhi oleh lingkunganya dan dengan sendirinya sifat kedewasaanya akan tumbuh.    

3.      PERKEMBANGAN DI PENGARUHI NATURE & NUTURE

3.1.Paham “Bawaan” ( nature )

Psikolog yang menganut paham “Bawaan” mengatakan bahwa  manusia itu berkembang secara teratur sesuai dengan gen yang dimiliki oleh tiap individu hingga mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangannya memiliki kesamaan dengan gen tersebut.
Paham bawaan, banyak dipengaruhi oleh pendapat plato (427-346 SM) yang menyatakan bahwa perbedaan-perbedaan individual mempunyai dasar genetik. Potensi individu dipengaruhi oleh faktor keturunan. Artinya sejak lahir anak telah memiliki bakat-bakat atau benih-benih kemampuan yang dapat di kembangkan melalui pengasuhan dan pendidikan. Baginya, pendidikan tidak lain hanyalah upaya untuk menarik potensi itu keluar, namun tidak menambahkan sesuatu yang baru.
Contohnya, dengan memberikan stimulasi ringan pada telapak tangan bayi muda-belia dapat menimbulkan gerakan menggenggam pada tangan bayi tersebut.
Respon dalam bentuk menggenggam yang diberikan oleh bayi tersebut, merupakan perintah yang diberikan oleh DNA kepada syaraf-syaraf atau reseptor yang berada di telapak tangan.
Pada bayi yang baru lahir, gerakan-gerakan yang dimunculkan adalah gerakan reflek dan instink. Gerakan instink digunakan untuk mempertahankan (kehidupan) diri. Yaitu, instink untuk makan dan minum. Untuk keperluan-keperluan yang lain, dia sangat menggantungkan diri pada lingkungannya. Kesempatan untuk mendapatkan pertolongan dengan respon menangis sebagai gerakan refleknya.
Anak-anak dianggap oleh paham ini sebagai miniatur orang dewasa. Secara sosial anak-anak juga diperlakukan layaknya orang dewasa. Selain itu proses-proses yang mendasari cara berpikir dan perbuatan yang dilakukan  oleh anak tersebut dianggap sama seperti orang dewasa. Dan apabila ia melakukan perbuatan menyimpang dari standart orang dewasa, anak tersebut dianggap bodoh dan tolol. Sementra jika anak melakukan perbuatan ang melanggar norma sosial dan moral, maka ia dianggap telah melakukan sebuah kejahatan dan menerima hukuman seperti orang dewasa.
Paham ini juga menyatakan bahwa lingkungan ekstrim, yakni berupa kondisi psikolois yang hampa dan bermusuhan, merpakan faktor yang dapat menghambat laju perkembangan individu. Akan tetapi, mereka tetap yakin bahwa  kebutuhan akan pertumbuhan dasar pada individu tersebut telah terpenuhi.

3.2.Paham “Lingkungan” ( nurture )

Berlawanan dengan paham bawaan tersebut, pada paham kedua, psikolog lain mengemukakan bahwa perkembangan pada tiap individu lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan memberikan kontribusi yang sangat besar pada perkembangan individu.
Seluruh tingkah laku yang muncul, merupakan tingkah laku yang telah dipelajari sebelumnya atau dengan kata lain di butuhkan adanya pengalaman belajar terhadap lingkungan. Dan proses perkembangan tersebut tidak tergantung pada faktor hereditas. Faktor hereditas hanya merupakan sebagian kecil yang dapat mempengarihi perkembangan manusia.
Paham lingkungan, dipengaruhi oleh pendapat John Locke (1632-1704), yang mengemukakan pendapat bahwa pengalaman dan pendidikan merupkan faktor yang peling menentukan dalm perkembangan anak. Ia tidak mengakui adanya kemampuan bawaan (innate knowledge). Ia mengibaratkan isi kejiwaan anak ketika dilahirkan layaknya secarik kertas kosong, dimana bentuk dan corak krtas tersebut nantinya sangat ditentukan oleh bagaimana kertas itu ditulisi.
Pengalaman yang dimaksud ialah mencakup pengalaman terhadap lingkungan biologis anak-gizi, perawatan kesehatan, obat dan kecelakaan fisik, sampai pada lingkungan sosial-keluarga, teman sebaya, sekolah, masyarakat, media dan budaya.
Contohnya, seorang anak yang merasa takut dengan adanya orang yang baru/asing yang tak pernah ia kenal/tidak akrab dengannya.Menurut Hebb dalam bukunya a Text Book of Psychology. Dalam penelitiannya mengenai contoh tadi, menyatakan bahwa ketakutan yang dirasakan anak tersebut, merupakan hasil dari pembelajarannya selama ini untuk menyukai seseorang. Dan ketika orang yang ditemui tersebut adalah orang yang jarang jarang atau tidak pernah didekatnya, maka anak tersebut cenderung akan merasa asing dan ketakutan sebagai bentuk respon yang ia berikan.




4.      PRINSIP-PRINSIP PERKEMBANGAN



4.1.Continuity

Sebagian psikolog berpendapat bahwa perkembangan manusia itu berjalan secara kontinyu. Maksud dari kontinuitas perkembangan (continuity of development) adalah pandangan bahwa perkembangan meliputi perubahan yang berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, dari pembuahan hingga kematian.
Paham ini mengatakan bahwa perkembangan manusia itu berjalan secara mulus dari waktu ke waktu melalui tahapan-tahapan perkembangan secara urut. Proses yang berjalan merupakan suatu proses pembelajaran bagi manusia dengan tujuan meraih kesuksesan tahapselanjutnya.
Contohnya, ketika seorang anak berhasil berjalan dengan jarak tiga langkah kaki orang dewasa menuju pada ibunya yang sedang membawa susu, itu semua merupakan hasil dari latihan yang dia lakaukan selama beberapa waktu. Ia juga telah melewati beberapa tahapan secara urut seperti tengkurap, duduk, merangkak hingga berjalan.

4.2.Discotinuity

Paham kedua mengenai laju perkembangan yakni diskontinuitas, yang memiliki pandangan yang bertentangan dengan pandangan yang pertama. Diskontinuitas perkembangan yaitu perkembangan yang meliputi tahapan-tahapan yang khas atau berbeda dalam masa hidupnya. Dalam paham ini individu di gambarkan memiliki kemampuan lebih besar pada suatu tahapan.
Contohnya pada suatu saat anak berubah dari tidak mampu berpikir abstrak mengenai dunia tiba-tiba ia mampu berpikir abstrak abstrak mengenai dunia. Maksudnya berfikir abstrak adalah memikirkan sesautu yang sulit dibuktikan dan diwujudkan. Dan perubahannya cenderung mengarah pada kondisi psikis.



4.3. Stability

Stabilitas perkembangan ialah perkembangan yang terjadi pada diri inividu sejak kecil hingga mencpai usia yang lebih tua tidak mengalami perbedaan atau tetap.
Contohnya : seorang anak TK, yang cenderung merasa malu-malu untuk berkenalandengan teman hingga ketika ia memasuki perguruan tinggi pun, ia tetap merasakan malu terhadap kontak sosial dilingkungan baru, ia akan bersikap dengan sikap yang sama, malu-malu.
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa sikap perkembangan anak tersebut cenderung tetap, meski telah melewati waktu yang cukup lama.

4.5. Changes

Paham perubahan mengatakan bahwa perkembangan manusia itu mengalami perubahan perkembangan pada diri individu hingga mengakibatkan adanya perbedaan dengan masa-masa sebelumnya.
Klaus Riegel (1975) berpendapat bawa perubahan, bukan stabilitas merupakan kunci untuk mengalami perkembangan. Pandangan Riegel Tersebut dikenal dengan model Dialegtis (Dialectical Model) yang mencatakan bahwa setiap individu terus berubah karna brbagai kekuatan yang mendorong dan menarik perkembangn kedepan, dalam model dialektis ini tiap orang dipandang bertindak berdasarkan dan bereaksi terhadap kondisi2 sosial kesejahteraan.

5.       DAFTAR PUSTAKA



Chaplin, J.P. (2002). Kamus Psikologi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Desmita. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hurlock, Elizabeth. (1994). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.